← Kembali

Salah satu kenangan yang paling membekas selama menempuh pendidikan di pesantren terjadi ketika saya duduk di kelas 3 MAK dan mengemban amanah sebagai pengurus. Pada masa itu, saya pernah memperoleh "peringkat pertama" langsung dari Buya—bukan dalam kategori prestasi akademik, melainkan sebagai pengurus yang paling sering menerima hukuman masuk kolam. Tentu, pengalaman tersebut terasa sangat memalukan. Namun, dalam tradisi pendidikan pesantren, hukuman bukan sekadar bentuk sanksi, melainkan bagian dari proses tarbiyah untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter. Kini, ketika peristiwa itu dikenang kembali, perspektif saya telah berubah. Yang dahulu terasa sebagai aib justru menjadi salah satu pelajaran paling berharga. Saya menyadari bahwa perhatian seorang guru tidak selalu diwujudkan melalui pujian, tetapi juga melalui pembinaan yang tegas dan penuh kasih sayang. Barangkali, dari sekian banyak santri, saya menjadi salah satu yang dikenal oleh Buya bukan karena kelebihan yang saya miliki, melainkan karena proses pendidikan yang Allah takdirkan saya jalani. Dan justru dari proses itulah saya belajar makna ketulusan seorang guru dalam mendidik muridnya.

Asep Ahmad Ridwansyah
Angkatan 14